Evaluate/ss
27 Februari/2019.
Dengan penuh drama dan ucapan syukur, aku meninggalkan Kota Medan. Segala cerita dan kisah yang aku tinggalkan disana aku genggam erat menjadi kenangan penuh syukur yang bisa aku ceritakan kembali dengan penuh bahagia saat kenangan itu digali (lagi).
Jam 5 sore pesawat singgah di Batam, dan mendarat di Surabaya jam 8.30. Aku menghirup udara Surabaya dengan sejuta mimpi cerita gadis perantau. Aku disambut sahabat lama satu tanah air, satu tanah kelahiran. (Penuh Canda, seperti biasa).
Hari - hari interview sudah berlalu.
aku masih menunggu . Untuk jawaban (terbaik) dari versi doaku sepanjang hari - hari ini.
- - -
Dua pekan di Surabaya membuka tabir perspective baru (lagi) buatku.
semuanya, segalanya tentang Surabaya. Kota yang dikenal sebagai Kota Pahlawan ini sudah memberikan aku makanan perspective baru dan selalu baru setiap harinya.
Anda harus mengerti bahwa, aku menulis ini sebagai memo, catatan, dan bisa dibilang kilas cerita untuk diri sendiri dan orang lain. tentu saja yang membacanya dengan penuh sadar akan terjebak di momen berhargaku selama di Surabaya :).
bisa kalian bayangkan bahwa bisa duduk terlalu lama untuk mencairkan kesendirian ditanah orang lain tinggal. Iya sudah biasa sih.
Berkali - kali membaca dan merenungkan karya seseorang terkait mindset (membuang Ke-Akuan) dengan selalu merendahkan diri?
bukankah aku terlalu berbohong untuk bilang bahwa aku mengetahui semua backsound yang diputar di Kedai Kopi ini? Aku berbohong, dengan pura - pura mengerti apa yang aku baca dsini selain sesungguhnya menikmati "gaya hidup". Tapi aku ternyata bisa menampik pikiran seperti itu. Aku melanjutkan bacaan dan mencoba untuk mengerti semuanya itu.
Aku menutup telinga dengan opera song yang setidaknya membuatku berlinang. Baru tadi malam, aku haus dan merindukan Mass Katolik yang dulu aku nikmati sebagai pujian sakral di tempat aku Kebaktian; Kyrie, Gloria, Credo, Sanctus, & Agnus Dei.
Jujur, aku melengkapi perjalanan merenung ini dengan Mass Katolik yang aku simpan di Track YouTube Channel miliku. Per kemarin.
Opera rohani yang menurutku ini. Menggelegar di dua buah blueberry digital yang menancap dikedua telingaku. Menampik, Musik Jazz yang menggelegar manis diluar telingaku, aku benar - benar menikmati aliran konsentrasi penuh ini ketika catatan - catatan karya Kylie Idleman membawa keningku bertemu dekat karena merasa perlu berhati - hati menafsirkan apa yang ia sampaikan. Segalanya tentang Menampik Keakuan, Kerendahan Hati, Bagaimana seharusnya Kita berpakaian, Otentik(Apa adanya).
Ada satu momen ketika aku menafsirkan bahwa penilaian mengasihani dan mendoakan yang muncul ketika melihat seseorang dari cara ia berpakaian. Bukankah, Tuhan melihat hati(apa yang terkunci didalam) sebagai ukuran sejati diri kita. Penampilan rasanya terlalu mudah dipalsukan.
Sekali lagi Yang Maha Kuasa ini selalu menjungkibalikan perkiraan kita terhadap sesuatu.
sambil terus membaca, aku sudah menghabiskan Freshly Brewed Coffee versi Grande punya kedai kopi ini. Air hangat yang sudah dingin tidak membatasi kemauan untuk setidaknya menyelesaikan dua sub bab cerita Kylie ini.
kali ini, aku membolak - balik lembar demi lembar untuk fokus soal Kerendahan Hati. Menebalkan kata Kylie "Meminta Maaf Membutuhkan Kerendahan Hati".
Aku membacanya berulang - ulang dan menyadari. Tuhan, Aku pernah melakukannya. tapi itu karena memang aku bersalah dan patut meminta maaf. Sudahkah aku rendah hati, atau apakah ini adalah keangkuhan karena mengakui sudah meminta maaf?
Bagaimana posisi jika tidak bersalah? Ya aku juga pernah meminta maaf karena tidak bersalah.
Aku ingat, dulu. Aku sering mengungkit soal Keteladanan dalam Kerendahan Hati pemuda - pemuda yang waktu itu aku pimpin disuatu komunitas rohani kuliah dulu. Selalu soal itu, selalu. lalu pabila aku tidak melakukannya, pasti itu salah, dan aku merasa terlalu tidak layak untuk membahas soal itu dihadapan mereka semua.
- - -
Detik - detik berharga ini. Aku benar - benar mengalami evaluasi yang terlalu banyak untuk aku lakukan.
Menghitung sudah 5 kali sejak aku masuk keluar kamar mandi untuk buang air kecil. menatapi cermin dan merasa terlalu sendiri dan ya, benar - benar menikmati kesendirian itu. Lebih baik sendiri dan berevaluasi bukan? Ya ampun, aku membela diri sendiri, lagi - lagi aku harus memperbaiki keangkuhan dan keAkuan ini.
Mengingat itu, matahari turun menghapus bayangan - bayangan kendaraan yang lewat dijalan sebelah. Hanya berbatas kaca. Aku hanya melihat lampu - lampu kendaraan saling mengejar sekarang. Rintik hujan juga sudah berhenti.
aku harus pulang, rambutku berantakan. dan aku harus makan, agar tidak mati.
Rayuan Ave Maria dari Libera benar - benar merangsang kemalasan sabtu malam untuk tidur dan tidak melakukan apapun. Aku merasa terlalu cukup sebenarnya untuk parkir sebentar . Jadi bukan salah. Tapi aku perlu melakukan sesuatu selain tidur dan makan, tidur-makan, makan-tidur.
Aku memutuskan untuk mengambil waktu untuk merenungi (tidak terlalu lama) dan mengevaluasi apa yang perlu ditindaklanjuti setelah lalu akan kembali pulang.
Berangkat pulang, dan sampai di Kontrakan sahabat, aku evaluasi untuk tetap bersyukur, sudah sampai ditempat tinggal. Ohh, hidup ini soal mengevaluasi.(Ternyata)
Dengan penuh Evaluasi,
Donna Brigitha per 10 Maret 2019
Surabaya - Jawa Timur
Dengan penuh drama dan ucapan syukur, aku meninggalkan Kota Medan. Segala cerita dan kisah yang aku tinggalkan disana aku genggam erat menjadi kenangan penuh syukur yang bisa aku ceritakan kembali dengan penuh bahagia saat kenangan itu digali (lagi).
Jam 5 sore pesawat singgah di Batam, dan mendarat di Surabaya jam 8.30. Aku menghirup udara Surabaya dengan sejuta mimpi cerita gadis perantau. Aku disambut sahabat lama satu tanah air, satu tanah kelahiran. (Penuh Canda, seperti biasa).
Hari - hari interview sudah berlalu.
aku masih menunggu . Untuk jawaban (terbaik) dari versi doaku sepanjang hari - hari ini.
- - -
Dua pekan di Surabaya membuka tabir perspective baru (lagi) buatku.
semuanya, segalanya tentang Surabaya. Kota yang dikenal sebagai Kota Pahlawan ini sudah memberikan aku makanan perspective baru dan selalu baru setiap harinya.
Anda harus mengerti bahwa, aku menulis ini sebagai memo, catatan, dan bisa dibilang kilas cerita untuk diri sendiri dan orang lain. tentu saja yang membacanya dengan penuh sadar akan terjebak di momen berhargaku selama di Surabaya :).
bisa kalian bayangkan bahwa bisa duduk terlalu lama untuk mencairkan kesendirian ditanah orang lain tinggal. Iya sudah biasa sih.
Berkali - kali membaca dan merenungkan karya seseorang terkait mindset (membuang Ke-Akuan) dengan selalu merendahkan diri?
bukankah aku terlalu berbohong untuk bilang bahwa aku mengetahui semua backsound yang diputar di Kedai Kopi ini? Aku berbohong, dengan pura - pura mengerti apa yang aku baca dsini selain sesungguhnya menikmati "gaya hidup". Tapi aku ternyata bisa menampik pikiran seperti itu. Aku melanjutkan bacaan dan mencoba untuk mengerti semuanya itu.
Aku menutup telinga dengan opera song yang setidaknya membuatku berlinang. Baru tadi malam, aku haus dan merindukan Mass Katolik yang dulu aku nikmati sebagai pujian sakral di tempat aku Kebaktian; Kyrie, Gloria, Credo, Sanctus, & Agnus Dei.
Jujur, aku melengkapi perjalanan merenung ini dengan Mass Katolik yang aku simpan di Track YouTube Channel miliku. Per kemarin.
Opera rohani yang menurutku ini. Menggelegar di dua buah blueberry digital yang menancap dikedua telingaku. Menampik, Musik Jazz yang menggelegar manis diluar telingaku, aku benar - benar menikmati aliran konsentrasi penuh ini ketika catatan - catatan karya Kylie Idleman membawa keningku bertemu dekat karena merasa perlu berhati - hati menafsirkan apa yang ia sampaikan. Segalanya tentang Menampik Keakuan, Kerendahan Hati, Bagaimana seharusnya Kita berpakaian, Otentik(Apa adanya).
Ada satu momen ketika aku menafsirkan bahwa penilaian mengasihani dan mendoakan yang muncul ketika melihat seseorang dari cara ia berpakaian. Bukankah, Tuhan melihat hati(apa yang terkunci didalam) sebagai ukuran sejati diri kita. Penampilan rasanya terlalu mudah dipalsukan.
Sekali lagi Yang Maha Kuasa ini selalu menjungkibalikan perkiraan kita terhadap sesuatu.
sambil terus membaca, aku sudah menghabiskan Freshly Brewed Coffee versi Grande punya kedai kopi ini. Air hangat yang sudah dingin tidak membatasi kemauan untuk setidaknya menyelesaikan dua sub bab cerita Kylie ini.
kali ini, aku membolak - balik lembar demi lembar untuk fokus soal Kerendahan Hati. Menebalkan kata Kylie "Meminta Maaf Membutuhkan Kerendahan Hati".
Aku membacanya berulang - ulang dan menyadari. Tuhan, Aku pernah melakukannya. tapi itu karena memang aku bersalah dan patut meminta maaf. Sudahkah aku rendah hati, atau apakah ini adalah keangkuhan karena mengakui sudah meminta maaf?
Bagaimana posisi jika tidak bersalah? Ya aku juga pernah meminta maaf karena tidak bersalah.
Aku ingat, dulu. Aku sering mengungkit soal Keteladanan dalam Kerendahan Hati pemuda - pemuda yang waktu itu aku pimpin disuatu komunitas rohani kuliah dulu. Selalu soal itu, selalu. lalu pabila aku tidak melakukannya, pasti itu salah, dan aku merasa terlalu tidak layak untuk membahas soal itu dihadapan mereka semua.
- - -
Detik - detik berharga ini. Aku benar - benar mengalami evaluasi yang terlalu banyak untuk aku lakukan.
Menghitung sudah 5 kali sejak aku masuk keluar kamar mandi untuk buang air kecil. menatapi cermin dan merasa terlalu sendiri dan ya, benar - benar menikmati kesendirian itu. Lebih baik sendiri dan berevaluasi bukan? Ya ampun, aku membela diri sendiri, lagi - lagi aku harus memperbaiki keangkuhan dan keAkuan ini.
Mengingat itu, matahari turun menghapus bayangan - bayangan kendaraan yang lewat dijalan sebelah. Hanya berbatas kaca. Aku hanya melihat lampu - lampu kendaraan saling mengejar sekarang. Rintik hujan juga sudah berhenti.
aku harus pulang, rambutku berantakan. dan aku harus makan, agar tidak mati.
Rayuan Ave Maria dari Libera benar - benar merangsang kemalasan sabtu malam untuk tidur dan tidak melakukan apapun. Aku merasa terlalu cukup sebenarnya untuk parkir sebentar . Jadi bukan salah. Tapi aku perlu melakukan sesuatu selain tidur dan makan, tidur-makan, makan-tidur.
Aku memutuskan untuk mengambil waktu untuk merenungi (tidak terlalu lama) dan mengevaluasi apa yang perlu ditindaklanjuti setelah lalu akan kembali pulang.
Berangkat pulang, dan sampai di Kontrakan sahabat, aku evaluasi untuk tetap bersyukur, sudah sampai ditempat tinggal. Ohh, hidup ini soal mengevaluasi.(Ternyata)
Dengan penuh Evaluasi,
Donna Brigitha per 10 Maret 2019
Surabaya - Jawa Timur

Komentar
Posting Komentar